Pengusaha yang Mengirim Besi Beton Ditukar dengan Cabai

besi beton dibayar cabai kering

Harga Besi Beton – Uluran tangan Retno Mardiningsih sontak mengalihkan perhatian Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang tengah dikerumuni para pengusaha besar pantas menjadi pembicara utama dalam Forum Bisnis Indonesia – Jepang di Tokyo, minggu lalu. “Aku Retno, pengusaha kecil dari Jawa Timur, Pak,” kata perempuan berkerudung itu seraya menyodorkan kartu nama.

Enggartiasto menyambut ramah uluran tangannya. Ia menanyakan macam usaha yang ditekuni Retno, dan peran pemerintah yang diinginkannya. Jebolan Universitas Brawijaya Malang itu bahkan memaparkan garis besar peta perdagangan rempah-rempah dan herbal di tanah air. Intinya, kata ia, banyak pengusaha asing terutama dari India di Singapura yang membeli rempah-rempah dari bermacam-macam pelosok di Indonesia untuk dipasarkan lagi ke mancanegara.

“Itu merugikan kita, Pak. Aku berkeinginan dibukakan jalan masuk khusus ke direct industry di manca negara supaya dapat business to business,” papar Retno dengan percaya diri.

Enggartiasto yang juga punya latar belakang sebagai pengusaha menonjol antusias menyimak paparan Retno. “Aku memang maunya yang berkembang itu justru (para pengusaha) yang kecil. Jikalau yang telah besar kan telah dapat mengurus sendiri,” katanya. Dia minta para stafnya menolong Retno untuk dapat berjumpa dengan pengusaha Jepang yang beratensi soal rempah dan herbal.

Sebelum menggeluti dunia bisnis rempah-rempah dan produk herbal, Retno Mardiningsih berprofesi di perusahaan ekspedisi, Kitrans Logistics, pada 2003-2008. Sebulan pertama ia tidak seketika ditempatkan di komponen akunting pantas gelar kesarjanaannya, melainkan menjadi customer service. Justru di komponen ini, ia menerima banyak pengetahuan baru yang tidak didapatnya di kursi kuliah.

“Aku jadi tahu seluk-beluk pengiriman barang melewati jalanan laut, mengendalikan truk-truk pengangkut, mendetail pembiayaan, dan lainnya,” tutur Retno.

Dikala putranya menjelang umur sekolah, perempuan kelahiran 14 September 1978 itu memastikan keluar dari Kitrans, dan merintis perusahaan sejenis dengan bendera, Kasaba Pratama. Tetapi ia mengklaim tidak mengusik para klien dari perusahaan lamanya. Mereka yang memakai jasa ekspedisi darinya benar-benar klien baru. Produk yang ditangani lazimnya barang-barang untuk keperluan konstruksi di bermacam-macam tempat di Indonesia.

“Mereka berbelanja kebutuhan dari Surabaya lalu mengirimkan ke tempat melewati perusahaan aku,” kata Retno.

Sebagai pemain baru, ia menerima modal permulaan dan pendampingan dari LPEI (Institusi Penjaminan Ekspor Indonesia). Di permulaan merintis bisnis, modal besar yang dimilikinya hanya nekad, tidak malu bertanya, dan tidak takut salah. “Ya, di permulaan mana punya duit. Modal utama aku nekad saja. Untuk ada LPEI,” ujarnya.

Sebab pengiriman barang senantiasa pas waktu, kepercayaan para kliennya meningkat. Mereka akibatnya minta Retno sekaligus membeli barang-barang yang dibutuhkan dan mengirimkannya. Sampai suatu hari, pada 2010, kliennya di Gorontalo menghadapi keadaan sulit keuangan.

“Ia tidak dapat membayar ongkos pengiriman besi beton, lalu membayarnya dengan satu kontainer cabe kering,” ujar Retno diiringi tawa kecil. “Jujur aku linglung berkeinginan diapakan cabe sebanyak itu. Kan enggak mungkin aku bikin saos pedas seluruh,” imbuhnya. Kali ini tawanya bercucuran.

Di tengah rasa masygul itu, ia teringat kenalannya seorang keturunan India yang punya home industry bumbu masak di Sidoarjo. Ia bahkan memasarkan cabe terhadap kenalannya hal yang demikian. Dari situ, Retno kemudian menerima pengetahuan seputar seluk-beluk mengolah bumbu, pengadaan, sampai pemasarannya. “Aku juga diberikan mesin untuk merajang kunyit,” ujarnya.

Singkat cerita, sambil konsisten mengelola bisnis ekspedisi, Retno bahkan mulai jual-beli aneka bumbu dan rempah-rempah. Tetapi dalam perjalanannya ia merasa tidak dapat mengelola dengan bagus dua usaha itu sekalian. Ia memastikan untuk menyerahkan kliennya di ekspedisi ke Kitrans, dan sepenuhnya berpusat di bisnis rempah-rempah.

“Aku menghimpun aneka rempah dan produk herbal dari bermacam-macam tempat dan memasarkannya terhadap para pembeli dari Singapura. Mereka kebanyakan orang-orang India,” ujar Retno.

Metode bisnis semacam itu dievaluasinya lebih menguntungkan para pedagang hal yang demikian. Saya pelan ia merintis jalanan sendiri supaya dapat terkait seketika dengan para pembeli di manca negara. “Aku berharap dapat memasarkan seketika, tidak berkeinginan lagi melewati perantara orang-orang India di Singapura yang menyukai seenaknya sendiri mematok harga,” ujarnya.

Di sisi lain, ia terus mengoptimalkan dan memperkuat kemitraan dengan para petani di banyak tempat. Di Waingapu, Sumba Timur, semisal, ia bekerja sama dengan ratusan petani kunyit, asem, kacang hijau, kacang mete, dan produk lainnya. Ia juga mencoba mengoptimalkan konjac untuk jelly di Malang.

Dalam forum bisnis di Tokyo, minggu lalu, Retno dengan Yoshie Teranaka . Pengusaha Jepang itu menggali info cukup mendetail seputar pengerjaan produksi, kapasitas produksi, bagaimana perusahaannya menjalin kemitraan dengan para petani, mengelola lingkungan dan seterusnya. Saya khusus, Retno menawarkan produk temulawak yang disebutnya berguna untuk mengobati pankreas. “Teranaka minta aku mengirimkan sampel untuk diuji di laboratoriumnya,” ujarnya.

Teranaka, Retno juga berjumpa dengan CEO Young Forest, Taro Wakabayashi dan Kepala Divisi Penjualan Internasional Tetsuro Asamizu. Perusahaan ini beratensi dengan ‘limbah’ kayu manis untuk pakan ternak. “Kebetulan aku punya pasokan cukup banyak,” ujar Retno dengan wajah berbinar.

 

Artikel Lain: wire mesh