Limasan, Atap Tradisional yang Tidak Lekang Zaman

atap rumah tradisional

Komponen dari arsitektur yang tidak habis dimakan zaman merupakan atap limasan. Atap limasan malah yakni salah satu atap rumah paling populer semenjak zaman Mataram Kuno. Jejaknya yang amat lama itu diakui arkeolog, praktisi komunikasi, sekalian penulis buku “Pancaran Limasan” Mitu M Prie. Ia meyebutkan bahwa bangunan limasan sudah timbul semenjak abad 8-9 Masehi. Sekarang, bangunan dengan atap limasan yang dulunya cuma diketahui sebatas rumah tradisional Jawa sudah banyak diterapkan pada bangunan modern seperti perumahan dan daerah lainnya.

“Limasan mulai banyak diubahsuaikan pada atap-atap rumah. Ini bukan cuma popularitas, melainkan juga telah menjadi aset. Variannya malahan banyak dengan paling lama merupakan limasan Borobudur dan Prambanan,” kata Mitu, di Jakarta. Atap limasan sendiri yakni variasi atap paling populer di Indonesia dan apabila diperhatikan dari konteks Jawa, keberadaannya melebihi variasi atap lainnya seperti panggang pe, pelana, joglo, dan tajuk.

“Sebab limasan ini tidak lekang zaman. Terus ada pada bangunan modern, ada di lobby hotel, melainkan lebih banyak diterapkan di rumah-rumah sebab dianggap lebih mewah daripada umpamanya pelana yang atap kampung,” tutur arsitek Rafael Arsono.

Rafael menambahkan, kecuali lebih mewah atap limasan juga cenderung lebih murah, lebih gampang dibangun, dan lebih arculated. Atap limasan juga yakni identitas sebab seluruh orang mengaplikasikannya ditambah dengan bawaannya yang netral serta gampang dimengerti. Kendati gampang dibangun, Rafael menegaskan bahwa tantangan dalam membangun atap limasan justru ada pada penyelarasan proporsinya karena plafon rumah saat itu juga masih belum terkenal seperti sekarang.

Pasalnya, ada jurai atau struktur pada atap limasan yang semestinya dihasilkan menonjol dan apabila itu tak sinkron atau tak pas karenanya akan menonjol jeleknya. “Jadi sedangkan ini dibuatnya mudah tetapi sekiranya salah ya jadinya akan jelek juga,” tandas Rafael.