Pelumas Berbasis CPO Dimaksimalkan Demi Redam Impor

Plt. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Abdul Rochim menyatakan, ada perusahaan asal Jerman yang beratensi mengoptimalkan industri berbasis bahan baku minyak sawit mentah (CPO). Hasil produksinya ini dapat dipasok untuk memenuhi keperluan industri pelumas di dalam negeri, sehingga dapat menekan bahan baku impor.

“Apalagi, Indonesia punya bahan baku CPO yang cukup banyak. Ini dapat kita tingkatkan skor tambahnya via hilirisasi industri,” terang Rochim di Jakarta. Hal ini bahkan paralel dengan kebijakan mandatori biodiesel 20% (B20), yang akan ditingkatkan menjadi B30 pada permulaan tahun 2020 dan B50 pada tahun 2021. Untuk potensi industri pelumas di dalam negeri, ketika ini terdapat 44 perusahaan produsen pelumas dengan jumlah produksi menempuh 908.360 kilo liter per tahun, yang terdiri dari pelumas otomotif sebesar 781.190 kilo liter per tahun dan pelumas industri 127.170 kilo liter per tahun. “Sementara, perembesan kekuatan kerja lantas di industri pelumas pada tahun 2018 sebanyak 3.157 orang, dengan ditambah kekuatan kerja dari 140 perusahaan importir dan 580 perusahaan distributor pelumas, mewujudkan sempurna kekuatan kerja di industri hal yang demikian menempuh 4.898 orang,” ucapnya.

Baca : https://www.rexco-solution.com/news/read/carburator-cleaner-terbaik-dari-rexco

Rochim menegaskan, Kemenperin terus berusaha mengasah tenaga saing industri via langkah kebijakan strategis yang berpusat pada memperkuat struktur industri, Standar Nasional Indonesia (SNI), dan menjadikan iklim usaha yang kondusif.

Kecuali itu jelas ia, perlu dilaksanakan promosi industri prioritas serta pengembangan penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis komputerisasi untuk menjadikan skor tambah tinggi di dalam negeri seiring dengan pemakaian industri 4.0. “Guna menunjang transformasi hal yang demikian, kami sudah menyiapkan bermacam kebijakan yang bisa memberikan stimulasi supaya industri kita dapat langsung mengaplikasikan transformasi industri 4.0,” imbuhnya.

Malah, untuk menunjang keterlibatan dunia industri dalam upaya penyiapan sumber tenaga manusia yang bermutu serta mengajak peran aktif dalam menjalankan aktivitas penelitian dan pengembangan, pemerintah sudah memfasilitasi pemberian super deduction tax. Ini tertuang pada Aturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2019 perihal Perubahan atas Aturan Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan. “Insentif fiskal itu akan dikasih terhadap industri yang terlibat dalam program pengajaran vokasi dengan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 200% dari jumlah tarif yang dikeluarkan untuk aktivitas praktik kerja, pemagangan, dan/atau pelajaran,” terangnya.

Sementara itu, dikasih pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 300% dari jumlah tarif yang dikeluarkan oleh industri yang menjalankan aktivitas penelitian dan pengembangan untuk menciptakan penemuan. “Penggunaan super deduction tax ini kecuali melengkapi insentif fiskal tax allowancedan tax holiday, akan mengakselerasi industri manufaktur nasional supaya siap menuju revolusi industri 4.0,” tandasnya.

 

Terkait : https://www.rexco-solution.com/news/read/pelumas-anti-karat-terbaik